Ada
waktu disaat kita memakai seragam putih-merah, putih-biru dan sekarang sudah
waktunya gue memakai seragam putih abu-abu, di masa ini adalah masa yang paling
menyenangkan dari dari masa-masa sebelumnya. Masa puber telah tumbuh yang
membuat gue teriak sana-sini dan mengagumi teman cewek dari yang dulunya
biasa-biasa saja sekarang menjadi luar biasa, aaarrrggghhhh….. perfect.
Upppssss…..gue lupa belum ngenalin diri, panggil saja gue DANY, dan
ini adalah cerita gue. Awal masuk SMA gue masih malu yang mau bergaul sama
teman-teman karna gue emang gak punya teman yang dekat seperti teman-teman yang
lain yang udah sejak smp mereka saling kenal. Gue selalu di hantui rasa takut
dengan wajah kakak senior yang selalu sok kuasa saat waktu MOS (Masa Orientasi
Sekolah) tapi rasa itu lalu pergi begitu saja saat ada senior yang memberi
simpati lebih sama gue. Ternyata gak semua kakak senior itu galak dan suka
marah-marah buktinya sebut saja (IKA WARDANA) dia adalah senior gue, dia baik,
ramah, sopan dan bisa hargai yang muda fix,, gue suka banget cewek yang seperti
kak ika.
MOS telah berlalu dan saatnya gue mengikuti pelajaran seperti
biasanya, udah satu minggu gue di kelas ini dan gue belum sama sekali kenal
sama teman-teman karna mereka sukanya bergerombol bisa saja mereka di sebut
club, dan sedangkan gue sendiri dech. Ada seorang cewek duduk di samping bangku
gue mulai tadi dia liatin gue terus dan tampaknya gue pernah satu kelompok sama
dia pas waktu MOS kemaren, namanya shilvi dia jago banget matematika orangnya
tinggi ea.., sejajar dah sama gue, tapi kalau masalah cantik dia nomer satu di
kelas.
Tring….tring…. (bel istirahat) cacing di perut udah mulai demo gue
cepat-cepat pergi kekantin. Ada dua cewek yang aku suka lagi duduk dikantin gue
ngerasa malu dan gue bingung harus pergi kemana buat cari makan kalau bukan ke
kantin. Di meja barat ada kak ika sama teman-temannya dan sebelah timur ada
shilvi lagi sendiri yang cengar-cengir di depan laptopnya. Ya tuhan… gue harus
gimana ?? ada sebuah pepatah mengatakan “jika kamu lapar dan kamu merasa malu
berarti kamu menyiksa diri kamu sendiri” ketika pepatah itu terlintas di benak
rasa malu dan gengsi gue hilang begitu saja. Gue pesan makan lalu duduk
ditengah-tengah, saat suapan pertama shilvi menyapa gue dengan suara lembutnya “hey…
kamu sendirian ??”. siapa…?? Aku ea ..??? “ea lah siapa lagi aku kan
tanya sama kamu” ow… ea aku sendirian. “kita kan lagi makan, gimana
kalau kamu pindah kesini kita makan bareng” uppsssttt….!!! Serius kamu shil,
“ea, kesini… kita makan bareng dari pada kamu di situ gak ada
temennya”. Barukali ini
gue di ajak makan bereng sama cewek cantik wah... seneng banget rasanya. Tapi
ada seorang yang menatap gue dengan alis mengkerut entah kenapa dia kayaknya
gak suka kalau gue sedang duduk sama shilvi. Dia adalah kak ika entah kenapa
dia kayak cemburu banget kalau gue deket sama shilvi, huftt… gak mungkin kak
ika cemburu sama gue, gue kan junior sedangkan kak ika senior gue terserah dah…
“Mengapa
ea, saat di samping shilvi gue ngerasa nyaman dan tenang seakan-akan dunia ini
milik gue sama shilvi yang laen ngontrak kale ea…. Xixixixiiiii…” ujar dalam hati.
Ada kebiasan yang gak pernah gue bisa
tinggalin setiap hari FACEBOOK, gue selalu
Online
setiap hari karena di situlah ada sesorang yang selalu nemenin gue saat gue senang dan
susah. Seorang cewek yang selalu komen di setiap status gue, namanya ILa
shilvia, dia gak punya album foto, itu yang bikin gue jadi penasaran dan pengen
ketemuan sama dia.
Sudah lama dia gak pernah komen di status gue. Dia hadir begitu
saja dalam kehidupan gue, tanpa pernah gue bayangkan dan impikan. Tiba-tiba
saja dia menyapa gue dalam pesan Facebook, sekedar met malam say, dan
gue pun balas malam juga say, sebagaimana seperti yang gue lakukan sama
siapa pun yang nge-add gue selama ne. nggak ada yang istimewe sama dia, yang
bisa gue jadikan alasan untuk memberikan perhatiaan khusus sama dia, minat
lebih apalagi mencintainya. Enggaklah!.
Seiring
hembusan angin malam gue merasa lebih Nyaman dengannya dibandingkan teman-teman
fb gue yang laen, hanya karena kita mempunyai hobi menulis aja. Gue atau dia
selalu berbagi info jika ada seminar tentang karya tulis. Gue merasa akrab
banget sama dia meski gue gak pernah tau dimana rumahnya, begitu juga dia. Dia
masih sekolah atau sudah kerja, dan dia udah punya pacar apa belum, dan
sebagainya.
Tapi, gue selalu merindukan komennya
di status gue, dan gue kira dia pun juga mengidamkan hal yang sama. Setiap gue
punya masalah yang sekiranya itu orang lain gak perlu tau gue kirim lewat pesan
di Fb-nya dan pasti itu langsung dia balas. Rasanya gue gak mampu menahan
keinginan gue buat selalu online, pagi, siang, atau malam. Dan gue yakin dia
pasti begitu. Setiap gue up date status,
enggak lama kemudian, pasti dia komen dan selalu ada symbol di setiap akhir
kalimat yang ia kirim seakan-akan dia menunggu balasan lagi, lagi, dan lagi !
Suatu
hari gue cerita sama shilvi tentang seseorang yang di Fb itu tapi gue gak sebut
mana itu, setelah shilvi dengerin gue cerita panjang x lebar x tinggi x rendah.
Lalu, shilvi bertanya
“apa kamu mencintainya dan….??”
Enggak,
enggak mungkin !!!
Bagaimana
mungkin aku mencintainya, ea meski dia mencintaiku, toh kita sedetik pun, gak
pernah ketemu di tempat nyata. Aku hanya tau dia seorang cewek dari profil saja
dan saat dia buat status-status. Dia pun taunya aku cowok dari profil ku doang.
“kenapa kamu gak ajak dia untuk saling jujur sama lain”
Maksud
kamu shil …??
“gini lo dan… semisal ajak dia sama-sama up date fhoto gitu, biar
kamu sama-sama ngerti”
Alah
….percuma shil entar yang ada malah foto palsu, alias bukan fotonya sendiri,
lantaran pengen tampak perfect, smart dan sebagainya.
Lalu, tiba-tiba shilvi lari ke dalam
kelas sambil menangis. Gue tau kenapa shilvi menangis karna gue dah buat dia
tersinggung. Gue langsung minta maaf dan gue berjanji sama shilvi akan gue
lakuin saran dia. Facebook, facebook, sungguh gue sangat jengah dengan
teknologi jaringan sosial satu ini. Begitu mudahnya kejadian-kejadian gak
penting ini menghajar kebahagian hidup gue, yang di dalamnya telah dihuni oleh
wajah-wajah penuh cahaya cinta. Gue bener gak tau apa gue mencintainya atau
enggak, sebab yang kurasakan bukan soal itu, tetapi lebih kerinduan untuk membaca status komennya.
“Emang apa bedanya cinta sama
rindu kan sama saja?” seloroh shilvi sambil menangis karna masih
tersingggung dengan kata-kata gue tadi.
Enggaklah shil. Intinya aku enggak
pernah ingin memilikinya…,” sergah gue”.
“Cinta kan gak harus memiliki …”
Ungu banget sih loe !! “gue terbahak”
Cinta
dalam hati … shilvi terbahak. Ah, “cinta dalam hati”, menyebalkan, tapi
memang faktual lo !! Cinta tak harus saling memiliki, menyebalkan tapi memang
riil !! Gedubrakkk …., nyaris dah si
shilvi jatuh dari kursi ini …. ^_^ !
***
Di tengah malam dengan hembusan angin malam yang dingin menusuk
tubuh sampai ke tulang, dengan jari-jari gemetar, gue hapus namanya dari daftar
teman facebook. Karna gue takut terlanjur cinta dan benar-benar mencekik
kebahagian gue di alam nyata. Ada perih meningkahi hati gue detik itu juga. Ada luka yang tercipta
yang di sini di balik ringkih dada. Ada rasa kehilangan yang sontak menghajar
kehidupan. Ada serpihan sesal yang menyelubungi selembar jiwa, bahwa sejak saat
inilah gue akan benar-benar gak akan bisa baca status, komen,pesan dan segala
hal yang jadi kebiasaannya selama ini.
Sekarang sudah waktunya buat gue
mencari teman yang nyata keberadaannya, ea salah satunya shilvi yang
akhir-akhir ini gue sama dia begitu deket. Tapi gue merasa gak enak sendiri
sama teman-teman yang di sekolah karna gue kemana-mana selalu sama shilvi,
seperti orang lagi pacaran saja
kemana-mana selalu berdua. Huft…. Aseekkk !!
Ah, sepertinya memang ada benernya
nasihat hidup suku jawa itu bahwa “jalaran trisno soko kulino”, Cinta
bisa terjadi lantaran kebiasaan. Tapi jika emang benar apa shilvi mau jadi
pacar gue padahal baru beberapa bulan ini kita saling kenal itu pun gue gak tau
latar belakangnya, dan dia juga sebaliknya apa dia ngerti latar belakang gue
sebenarnya. Gue kan anaknya suka jalan pakek motor (adventure), enggak, enggak
… gue gak boleh jatuh cinta sama shilvi dia begitu cantik, anggun, baik, sopan
dan ramah. terlalu berharga bagi gue wanita seperti shilvi harus sakit hati
hanya karena perasaan cinta yang gue ucapkan nantinya.
Huftt…. Setres gue, Lanjutin besok
lagi ea ……

